Deng Ical Ungkap Alasan Indonesia Gabung ‘Board of Peace’
Namun, seiring waktu, dinamika internal forum berkembang. Deng Ical menilai arah pembahasan mulai melebar dari fokus awal perdamaian Gaza menjadi isu yang lebih luas terkait stabilitas kawasan Timur Tengah.
“Awalnya spesifik untuk Gaza. Tapi belakangan bergeser menjadi isu perdamaian Timur Tengah secara umum. Kita tentu kaget karena fokusnya berubah,” ujarnya.
Ia juga menyinggung adanya kesepakatan damai yang sempat dibicarakan, namun di lapangan konflik tetap terjadi. Hal tersebut, menurutnya, menjadi pertanyaan besar terkait efektivitas forum dalam menekan agresi dan memastikan implementasi kesepakatan.
Legislator terpilih dari Dapil Sulsel 1 ini mengungkapkan, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut sempat dibahas di DPR RI, khususnya terkait urgensi dan arah kebijakan luar negeri Indonesia.
Menurutnya, secara prinsip Indonesia tidak salah bergabung, karena niat awalnya sangat jelas untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan memperkuat jalur diplomasi internasional.
Apalagi, forum tersebut disebut-sebut memiliki akses komunikasi dengan sejumlah elite global, termasuk tokoh-tokoh berpengaruh di Amerika Serikat.
“Awalnya benar sekali, untuk memerdekakan Palestina. Karena selama ini pintu-pintu diplomasi yang kuat terasa belum cukup,” tegasnya.
Namun ia mengingatkan, Indonesia harus tetap konsisten agar tujuan awal tidak melenceng. Terlebih, menurutnya, terdapat momentum penting seperti resolusi yang ditargetkan rampung pada 15 Januari lalu, namun prosesnya tidak berjalan sesuai harapan.
Indonesia sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling vokal mendukung kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional.
Secara konsisten, pemerintah Indonesia menyerukan penghentian kekerasan, pembukaan akses kemanusiaan, serta solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalan damai permanen.
Deng Ical menegaskan, apa pun bentuk forum internasional yang diikuti Indonesia, komitmen terhadap perdamaian Gaza dan kemerdekaan Palestina harus tetap menjadi prioritas utama.








Tinggalkan Balasan